Kebijakan Kampus Merdeka yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus mendorong indikator kinerja perguruan tinggi dalam rangka memajukan sistem pendidikan di tanah air. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan program pertukaran mahasiswa antar perguruan tinggi. Dimana dengan program ini, diharapkan akan menambah wawasan dosen dan mahasiswa tentang semangat kebhinekaan dengan jalinan kerjasama serta konsorsium antar perguruan tinggi.

Dalam pemulihan pasca pandemi di sektor pendidikan saat ini, bangsa Indonesia sedang berjuang di tengah era kemajuan teknologi dan informasi. Begitu juga rasa cinta tanah air, nasionalisme, dan bela negara yang terus ditingkatkan, karena tantangan yang dihadapi oleh generasi muda di Indonesia akan semakin kuat. Wujud konkret bela negara senantiasa ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan sehari-hari, belajar, membantu sesama manusia, hinggapekerjaan yang ditekuni demi menjaga keamanan lingkungan serta membangun Indonesia yang lebih baik lagi.

Dalam rangka mendorong semangat pemulihan pendidikan tinggi di Indonesia dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Provinsi DKI Jakarta, yang merupakan satuan kerja Kemendikbudristek dengan bangga meluncurkan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka melalui Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PMM-PKBN) melalui berbagai jalur profesi.

Sekilas Tentang PMM-PKBN

Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) adalah salah satu program di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek. Program ini menjadi unggulan karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat menggunakan hak belajarnya di luar program studi dan perguruan tinggi asal. Dalam program ini, akan terciptanya ruang jumpa antara mahasiswa, dosen, dan perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia melalui kegiatan akademik dan nonakademik. Program PMM akan membentuk para pelajar Pancasila dan calon pemimpin masa depan, dimana PMM akan mendorong pemulihan pandemi dan membawa Indonesia menyongsong ke masa depan. PMM juga membuka kesempatan antar mahasiswa dan antar perguruan tinggi untuk saling berkolaborasi.

Sebagai fasilitator peningkatan mutu perguruan tinggi di Provinsi DKI Jakarta, LLDikti Wilayah III di bawah naungan Kemendikbudristek menggandeng Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan (BADIKLAT Kemenhan) untuk mensinergikan antara PMM dengan Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN). PMM-PKBN akan menjadi program sinergi baru antara Kemendikbudristek dan Kemenhan sebagai upaya membangun daya tangkal bangsa agar memiliki karakter dan sikap rasa cinta tanah air, keyakinan pada Pancasila sebagai ideologi negara dan kerelaan berkorban bagi bangsa, kesadaran berbangsa dan bernegara, dan negara yang teraktualisasi sesuai profesi warga negara sebagai kemampuan bela negara melalui perguruan tinggi, para dosen, dan mahasiswa.

Rangkaian Kegiatan PMM-PKBN

  1. MOU antara LLDikti Wilayah III, Badiklat Kemhan, Ditjen Diktiristek 8 Agustus 2022
  • Pendaftaran Peserta PMM-PKBN pada 10-31 Agustus 2022
  • Kuliah Umum 3 Menteri (Menko-PMK, Mendikbudristek, Menhan) pada 13 September 2022

Dalam acara penutupan Pembekalan Fasilitator PMM-PKBN di Rumpin, Bogor, 10 Agustus 2022, Kepala LLDikti Wilayah III, Dr. Paristiyanti Nurwardani, M.P mengungkapkan “mari kita bentuk rasa bela negara ini dengan meningkatkan rasa kegotongroyongan di lingkungan kita sendiri, yaitu pendidikan tinggi. Kegiatan PMM-PKBN ini akan memfasilitasi mahasiswa lewat 5 modul pelatihan, antara lain artificial intellegence, data science, cyber security, communication specialist, dan web programming, langsung akan difasilitasi oleh para dosen-dosen yang telah dilatih menjadi fasilitator, dan akan dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi expert di modul-modul yang ditawarkan, yaitu: Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Universitas Bina Nusantara, Universitas Gunadarma, Universitas Kristen Krida Wacana, Universitas Bina Sarana Informatika, serta Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR.”

Output dari program PMM-PKBN ini, mahasiswa dapat menyetarakan Satuan Kredit Semester (SKS) setara 20 SKS, mendapatkan sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Profesi dari Perguruan Tinggi yang telah ditunjuk, sertifikat Bela Negara dari Badiklat Kemenhan yang dapat meningkatkan daya saing. Sejalan dengan hal tersebut, Paris meyakini bahwa informasi dan komunikasi saat ini sudah menjadi bagian dari infrastruktur pembangunan sebuah bangsa yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan “Bela negara tidak selalu identik dengan pendidikan militer, tetapi melalui hal lain. Misalnya saja di bidang keamanan siber yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Kita menyadari saat ini ada saja serangan di dunia maya dan telah menjadi trend baru dalam perang modern di abad-21.“ Oleh karena itu, dari Jakarta untuk Indonesia, kita bersama-sama membela negara dengan membangun kekuatan siber melalui program PMM-PKBN.

Program PMM-PKBN ini juga akan mendukung program transformasi digital di Indonesia yang dicananangkan oleh Presiden Jokowi, salah satunya pengembangan roadmap transformasi digital di sektor-sektor strategis, terutama sektor pendidikan dan menyiapkan kebutuhan SDM yang berkompetensi talenta digital.

Sumber : Humas LLDikti Wilayah III